Al-An'aam
این ترجمهٔ تفسیر سعدی است، همانگونه که IslamHouse.com آن را در saadi.islamenc.com منتشر میکند و از صفحههای آن سایت گرفته شده است. سایت نمیگوید چه کسی آن را ترجمه کرده و از کدام چاپ پیروی میکند، و برای برداشتن متن آن شرطی بیان نمیکند، پس حق نمایش آن تأیید نشده است. کسی آن را با کتاب چاپی مقایسه نکرده و عالمی آن را بررسی نکرده است. هر بخش در کنار آیههایی آمده که دربارهٔ آنها توضیح میدهد و این آیهها متن قرآن از Tanzil است، همانگونه که آنجا هست؛ آیهای که سایت توضیح جداگانهای برایش نمیدهد با بخش پیش از خود میآید، و فهرست هر چنین آیهای را نام میبرد. سبیل چیزی از آن را ننوشته و ترجمه نکرده است.
متن ازsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)برداشتهشده در 2026-10-22
وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ۱۰۸
(108) Allah melarang orang-orang Mukmin dari satu per-kara yang pada dasarnya dibolehkan bahkan dianjurkan, yaitu mencela tuhan-tuhan milik orang-orang musyrik yang disembah dan dipertuhankan bersama Allah, di mana menghinanya dan men-celanya mendekatkan kepada Allah. Akan tetapi karena celaan terhadap tuhan mereka merupakan jalan bagi mereka untuk men-cela Allah, Rabbul alamin, yang mana Dia harus disucikan dari se-gala aib, cacat, celaan, dan hinaan, maka Allah melarang mencela tuhan-tuhan kaum musyrikin, karena mereka membela dan fanatik kepada agamanya. Karena Allah menghiasi amal setiap umat, maka mereka memandangnya baik, membelanya, dan memperjuangkan-nya dengan berbagai cara bahkan mereka mencela Allah, -Rabbul alamin di mana keagunganNya telah terpatri di hati orang-orang baik dan durhaka- apabila kaum Muslimin mencelanya. Akan te-tapi tempat kembali semua manusia pada Hari Kiamat adalah kepada Allah. Mereka akan menghadap kepadaNya, amal-amal mereka akan disodorkan lalu Dia akan menjelaskan kepada mereka kebaikan dan keburukan apa yang mereka lakukan. Ayat yang mulia ini adalah dalil bagi kaidah syar'i yaitu bahwa sarana ditimbang dengan tujuannya, sarana kepada yang haram -walaupun pada dasarnya dibolehkan- adalah haram jika ia menye-ret kepada keburukan.