پرش به محتوا
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Qasas
سورهٔ ۲۸

Al-Qasas

این ترجمهٔ تفسیر سعدی است، همان‌گونه که IslamHouse.com آن را در saadi.islamenc.com منتشر می‌کند و از صفحه‌های آن سایت گرفته شده است. سایت نمی‌گوید چه کسی آن را ترجمه کرده و از کدام چاپ پیروی می‌کند، و برای برداشتن متن آن شرطی بیان نمی‌کند، پس حق نمایش آن تأیید نشده است. کسی آن را با کتاب چاپی مقایسه نکرده و عالمی آن را بررسی نکرده است. هر بخش در کنار آیه‌هایی آمده که دربارهٔ آن‌ها توضیح می‌دهد و این آیه‌ها متن قرآن از Tanzil است، همان‌گونه که آنجا هست؛ آیه‌ای که سایت توضیح جداگانه‌ای برایش نمی‌دهد با بخش پیش از خود می‌آید، و فهرست هر چنین آیه‌ای را نام می‌برد. سبیل چیزی از آن را ننوشته و ترجمه نکرده است.

متن ازsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)برداشته‌شده در 2026-10-22

آیهٔ ۵۲

ٱلَّذِينَ ءَاتَيْنَـٰهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ مِن قَبْلِهِۦ هُم بِهِۦ يُؤْمِنُونَ ۵۲

PASAL Tentang beberapa faidah dan pelajaran yang ada di dalam kisah yang sangat berkesan ini: 1. Sesungguhnya ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, pelajaran-pelajaran dan hari-harinya pada umat-umat terdahulu hanyalah dapat dijadikan sebagai pelajaran dan pedoman (penerang) oleh orang-orang yang beriman. Pelajarannya sangat tergantung kepada kadar keimanan seseorang, dan bahwa Allah سبحانه وتعالى menurunkan kisah-kisah tersebut adalah untuk mereka; sedangkan selain mereka, maka sama sekali tidak dipedulikan oleh Allah, dan mereka sama sekali tidak memi-liki cahaya dan petunjuk darinya. 2. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى apabila menghendaki suatu perkara, maka Dia mempersiapkan segala sebab-sebabnya dan dihadirkan-nya sedikit-demi sedikit secara bertahap, tidak sekaligus. 3. Sesungguhnya umat yang tertindas, sekalipun sudah men-capai puncak penindasan, maka tidak sepantasnya mereka dikuasai oleh sifat malas untuk menuntut haknya, dan tidak pula berputus asa untuk bangkit kepada kehidupan yang bermartabat, terutama jika mereka adalah orang-orang yang teraniaya; sebagaimana Allah telah menyelamatkan bangsa Bani Israil, umat yang tertindas dari tawanan Fir'aun dan para pembesarnya, kemudian memberikan kekuasaan kepada mereka di bumi dan menguasai negeri mereka. 4. Sesungguhnya umat, selagi masih hina dan tertindas, maka tidak akan dapat mengambil haknya, tidak akan bisa membicara-kannya, dan permasalahan agama dan dunianya tidak akan tegak, dan mereka tidak akan memiliki kepemimpinan di dalamnya. 5. Kelembutan Allah kepada ibunda Musa. Allah meringan-kan musibah atasnya dengan diberi kabar gembira, yaitu: Allah سبحانه وتعالى akan mengembalikan putranya ke pangkuannya dan akan menja-dikannya termasuk dalam golongan para rasul. 6. Sesungguhnya Allah kadang menakdirkan bagi hambaNya beberapa penderitaan untuk dianugerahi suatu kebahagiaan yang lebih besar daripada penderitaan itu, atau untuk melepaskannya dari suatu keburukan yang lebih besar daripada itu. Sebagaimana Dia telah menakdirkan kepada ibunda Musa kepiluan yang sangat dan kesedihan yang sangat berat yang akhirnya ia menjadi wasilah (sarana, jalan) bagi putranya untuk bisa sampai kepadanya dalam suasana jiwa sang ibu tenang, dadanya merasa lega dan makin bertambah bahagia dan senang karenanya. 7. Sesungguhnya rasa takut alami yang ada pada manusia tidak menafikan iman dan tidak pula menghilangkannya, sebagai-mana yang terjadi pada ibunda Musa dan juga pada Musa terhadap hal-hal yang menakutkan itu. 8. Sesungguhnya iman itu dapat bertambah dan berkurang; dan di antara hal yang paling menambah iman dan menyempurna-kan keyakinan adalah sabar di saat ditimpa hal-hal yang menakut-kan dan memohon keteguhan hati kepada Allah di saat menghadapi berbagai hal yang menggelisahkan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَوۡلَآ أَن رَّبَطۡنَا عَلَىٰ قَلۡبِهَا لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 10 ﴿ "Seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya dia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)." (Al-Qashash: 10). Maksudnya, supaya imannya bertambah dengannya dan hatinya menjadi tenang. 9. Sesungguhnya di antara nikmat Allah yang paling besar kepada hambaNya dan pertolongan terbesar bagi seorang hamba atas segala permasalahannya adalah diberi keteguhan hati oleh Allah dan ditenangkannya jiwa dalam menghadapi hal-hal yang menakutkan dan perkara-perkara yang sangat mengerikan. Karena dengannya dia dapat mengatakan yang benar dan melakukan yang tepat. Berbeda dengan orang yang terus-menerus bersedih, takut, dan gelisah, maka dia akan kehilangan kejernihan pikiran, akalnya tidak akan menentu sehingga ia tidak bisa mengambil pelajaran dengan dirinya sendiri dalam kondisi seperti itu. 10. Sesungguhnya kalau saja seorang hamba mengetahui bahwa Qadha` dan Qadar serta janji Allah itu pasti terjadi, maka ia tidak akan meremehkan segala sebab kausalitas yang diperintah-kan, dan hal itu sama sekali tidak menafikan keimanannya kepada wahyu Allah. Sebab, Allah telah berjanji kepada ibu Musa akan mengembalikan putranya ke pangkuannya, namun beserta semua itu dia tetap berupaya keras dalam upaya pengembalian anaknya, dan dia menyuruh putrinya untuk membuntuti Musa dari kejauhan dan mencarinya. 11. Seorang perempuan boleh pergi untuk memenuhi kebu-tuhan-kebutuhannya dan berkomunikasi dengan kaum lelaki de-ngan tidak melakukan hal-hal yang dilarang, sebagaimana yang telah dilakukan oleh saudara perempuan Musa dan kedua putri penguasa negeri Madyan. 12. Boleh mengambil upah (imbalan) atas pengasuhan dan penyusuan anak, serta menunjukkan orang yang bisa melakukan-nya. 13. Sesungguhnya di antara rahmat Allah kepada hambaNya yang lemah yang hendak Dia muliakan adalah Allah memperlihat-kan kepadanya sebagian dari mukjizatNya (tanda-tanda kebenar-anNya) dan mempersaksikan kepadanya sebagian dari bukti-bukti keagunganNya yang akan makin menambah keimanannya, seba-gaimana Allah telah mengembalikan Musa kepada ibunya agar dia tahu bahwa janji Allah itu benar. 14. Sesungguhnya membunuh seorang kafir yang terikat dengan perjanjian (damai) atau perjanjian menurut adat kebiasaan adalah tidak boleh; sebab Musa عليه السلام telah menganggap pembunuh-an yang dilakukannya terhadap seorang Qibthi yang kafir sebagai dosa, dan dia meminta ampun kepada Allah karena pembunuhan itu. 15. Sesungguhnya orang-orang yang membunuh manusia tanpa alasan yang haq dianggap tergolong orang-orang yang se-mena-mena yang berbuat kerusakan di muka bumi. 16. Sesungguhnya siapa saja yang membunuh jiwa manusia tanpa alasan yang haq dan dia mengklaim bahwa dirinya meng-inginkan perbaikan di muka bumi ini dan ingin membuat para pelaku maksiat merasa takut, maka dia adalah pendusta di dalam hal itu, dia adalah manusia pembuat kerusakan, sebagaimana Allah menuturkan tentang perkataan orang Qibthi, ﴾ إِن تُرِيدُ إِلَّآ أَن تَكُونَ جَبَّارٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا تُرِيدُ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلۡمُصۡلِحِينَ 19 ﴿ "Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang ber-buat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian," dengan nada menyetujui pendapatnya, bukan mengingkarinya. 17. Sesungguhnya pemberitaan seseorang tentang seseorang lainnya karena kejahatan yang dilakukannya sebagai bentuk (sikap) peringatan waspada bukan merupakan tindakan namîmah (adu domba, memfitnah), bahkan adakalanya menjadi wajib, sebagai-mana seorang lelaki yang telah menginformasikan kepada Musa dengan maksud menasihati dan mengingatkannya (dari rencana Fir'aun terhadap dirinya). 18. Apabila seseorang merasa khawatir akan dibunuh atau binasa kalau tinggal (di negerinya), maka dia tidak boleh menjeru-muskan dirinya dalam kebinasaan dan tidak boleh menyerah untuk itu, akan tetapi hendaklah dia pergi menjauhinya, seperti yang di-lakukan oleh Musa. 19. Sesungguhnya dalam kondisi dua bahaya berbenturan, apabila harus melakukan salah satunya, maka yang dilakukan adalah yang lebih kecil bahayanya dan yang lebih selamat, sebagai-mana ketika Musa menghadapi (dua pilihan) antara menetap di Mesir akan tetapi dia akan dibunuh, atau pergi ke suatu negeri yang jauh yang belum diketahui jalannya, sementara dia tidak mempunyai penunjuk jalan yang menunjukkannya selain Allah. Namun pilihan yang kedua ini lebih bisa diharapkan untuk (men-jamin) keselamatan daripada yang pertama. Maka Musa memilih yang kedua ini. 20. Sesungguhnya orang yang mengkaji suatu ilmu pada saat perlu dibahas, ketika dia belum menemukan kepastian pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat yang ada, maka hendaknya dia meminta petunjuk kepada Rabb (Allah سبحانه وتعالى) dan memohon kepada-Nya agar berkenan membimbingnya kepada yang benar dari dua pendapat setelah dia berniat dalam hatinya dengan tulus mencari kebenaran. Sebab, Allah سبحانه وتعالى tidak akan menyia-nyiakan orang yang seperti ini kondisinya. Seperti ketika Musa pergi menuju arah negeri Madyan, dia berdoa: ﴾ عَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يَهۡدِيَنِي سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ 22 ﴿ "Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar." (Al-Qashash: 22). 21. Sesungguhnya kasih sayang kepada manusia dan berbuat baik kepada orang yang dikenal dan orang yang belum dikenal adalah ter

(52) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan keagungan al-Qur`an, kejernihan dan kebenarannya, dan bahwa sesungguhnya para ahli ilmu sebe-narnya mengetahuinya dan beriman kepadanya, mereka mengakui bahwa al-Qur`an itu haq (benar), seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِهِۦ ﴿ "Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka al-Kitab sebelum al-Qur`an." Mereka adalah orang-orang ahli Taurat dan Injil yang tidak merubah dan tidak mengganti (Taurat dan Injil), ﴾ هُم بِهِۦ ﴿ "mereka kepadanya," maksudnya, kepada al-Qur`an dan nabi yang datang membawanya, ﴾ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "beriman."