Al-Muminoon
این ترجمهٔ تفسیر سعدی است، همانگونه که IslamHouse.com آن را در saadi.islamenc.com منتشر میکند و از صفحههای آن سایت گرفته شده است. سایت نمیگوید چه کسی آن را ترجمه کرده و از کدام چاپ پیروی میکند، و برای برداشتن متن آن شرطی بیان نمیکند، پس حق نمایش آن تأیید نشده است. کسی آن را با کتاب چاپی مقایسه نکرده و عالمی آن را بررسی نکرده است. هر بخش در کنار آیههایی آمده که دربارهٔ آنها توضیح میدهد و این آیهها متن قرآن از Tanzil است، همانگونه که آنجا هست؛ آیهای که سایت توضیح جداگانهای برایش نمیدهد با بخش پیش از خود میآید، و فهرست هر چنین آیهای را نام میبرد. سبیل چیزی از آن را ننوشته و ترجمه نکرده است.
متن ازsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)برداشتهشده در 2026-10-22
ثُمَّ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ وَأَخَاهُ هَـٰرُونَ بِـَٔايَـٰتِنَا وَسُلْطَـٰنٍ مُّبِينٍ ۴۵
Sejak lama sekali, terngiang-ngiang padaku sebuah keterangan dari salah seorang ulama, yang sekarang ini namanya tidak terbetik pada ingatanku. Yaitu, setelah [pengutusan] Musa dan turunnya kitab Taurat, maka Allah melenyapkan siksa dari umat manusia. Maksudnya, siksaan yang menghabisi sebuah umat sampai tuntas tanpa sisa. Dan mensyariatkan jihad untuk memerangi kaum yang mendustakan dan menentang. Saya tidak tahu, darimana beliau mendapatkan pernyataan ini. Setelah saya merenungi ayat-ayat ini beserta ayat-ayat yang termaktub dalam surat al-Qashash, maka menjadi jelaslah sisi (pendalilannya): Adapun ayat-ayat ini, maka sesungguhnya Allah telah menceritakan tentang umat-umat manu-sia yang telah dibinasakan, dengan kehancuran secara berturutan. Selanjutnya, Dia mengirim Musa, setelah itu dan menurunkan Taurat kepadanya. Di dalamnya tertuang hidayah bagi umat ma-nusia. Berdasarkan ini, maka kebinasaan Fir'aun tidak termasuk dalam konteks ini. Karena peristiwanya terjadi sebelum turunnya Taurat. Sedangkan ayat-ayat yang terdapat pada surat al-Qashash, begitu jelas maksudnya. Sesungguhnya, sesudah Allah mencerita-kan kebinasaan Fir'aun, Dia berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ مِنۢ بَعۡدِ مَآ أَهۡلَكۡنَا ٱلۡقُرُونَ ٱلۡأُولَىٰ بَصَآئِرَ لِلنَّاسِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لَّعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ 43 ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, un-tuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk serta rahmat, agar mereka ingat." (Al-Qashash: 43). Ini jelas sekali, bahwa Allah mendatangkan al-Kitab kepada Musa setelah kehancuran umat-umat yang membangkang, dan mengabarkan bahwa Dia menurunkannya sebagai pelita bagi umat manusia, petunjuk dan rahmat. Boleh jadi termasuk konteks pem-bahasan ini adalah sesuatu yang disebutkan Allah dalam surat Yunus. ﴾ ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۢ بَعۡدِهِۦ رُسُلًا إِلَىٰ قَوۡمِهِمۡ فَجَآءُوهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَمَا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُواْ بِمَا كَذَّبُواْ بِهِۦ مِن قَبۡلُۚ كَذَٰلِكَ نَطۡبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِ ٱلۡمُعۡتَدِينَ 74 ثُمَّ بَعَثۡنَا مِنۢ بَعۡدِهِم مُّوسَىٰ وَهَٰرُونَ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ بِـَٔايَٰتِنَا فَٱسۡتَكۡبَرُواْ وَكَانُواْ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ 75 ﴿ "Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya. De-mikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas. Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa." (Yunus: 74-75).
(45) FirmanNya, ﴾ ثُمَّ أَرۡسَلۡنَا مُوسَىٰ ﴿ "Kemudian Kami utus Musa" putra Imran, Kalimurrahman, ﴾ وَأَخَاهُ هَٰرُونَ ﴿ "dan saudaranya Harun," ketika beliau memohon kepada Allah agar mengikutsertakan sau-daranya itu (Harun) dalam misinya. Allah menyambut permo-honan ini, ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami," yang menunjukkan kebenaran mereka berdua dan (kebenaran) risalah yang mereka emban, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan bukti yang nyata," mak-sudnya hujjah yang nyata, lantaran besarnya kekuatannya yang mampu memaksa hati-hati dan menguasainya karena kekuatannya. Maka, hati-hati kaum Mukminin pun menjadi tunduk, dan tegak-lah hujjah di hadapan orang-orang yang melakukan penentangan. Ini seperti Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ تِسۡعَ ءَايَٰتِۭ بَيِّنَٰتٖۖ ﴿ "Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah ayat yang nyata." (Al-Isra`: 101). Oleh karena itu, pimpinan para penentang telah mengetahui kebenaran namun tetap berkeras kepala menentang. ﴾ فَسۡـَٔلۡ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِذۡ جَآءَهُمۡ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka," dengan membawa ayat-ayat yang nyata tersebut. Maka, [Fir'aun][9] berkata kepada beliau, ﴾ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰمُوسَىٰ مَسۡحُورٗا ﴿ "Sesungguhnya aku menyangkamu, hai Musa, seorang yang terkena sihir." (Al-Isra`: 101). Lalu, Musa menyanggah, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُورٗا 102 ﴿ "Sungguh kamu telah mengetahui, bahwa tidaklah yang menurun-kan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti nyata, dan sesungguhnya aku mengiramu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa." (Al-Isra`: 103). Allah تعالى juga berfirman, ﴾ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ﴿ "Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (An-Naml: 14).