Al-Baqara
این ترجمهٔ تفسیر سعدی است، همانگونه که IslamHouse.com آن را در saadi.islamenc.com منتشر میکند و از صفحههای آن سایت گرفته شده است. سایت نمیگوید چه کسی آن را ترجمه کرده و از کدام چاپ پیروی میکند، و برای برداشتن متن آن شرطی بیان نمیکند، پس حق نمایش آن تأیید نشده است. کسی آن را با کتاب چاپی مقایسه نکرده و عالمی آن را بررسی نکرده است. هر بخش در کنار آیههایی آمده که دربارهٔ آنها توضیح میدهد و این آیهها متن قرآن از Tanzil است، همانگونه که آنجا هست؛ آیهای که سایت توضیح جداگانهای برایش نمیدهد با بخش پیش از خود میآید، و فهرست هر چنین آیهای را نام میبرد. سبیل چیزی از آن را ننوشته و ترجمه نکرده است.
متن ازsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)برداشتهشده در 2026-10-22
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسْتَحْىِۦٓ أَن يَضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَـٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرًا وَيَهْدِى بِهِۦ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلْفَـٰسِقِينَ ۲۶
(26) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا ﴿ "Sesung-guhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan," maksudnya perum-pamaan apa pun itu, ﴾ بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ ﴿ "berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu," karena perumpamaan meliputi kebijaksanaan dan penjelasan akan kebenaran, sedang Allah tidaklah segan mengung-kapkan kebenaran. Dalam hal ini seakan-akan ada sebuah jawaban bagi orang yang mengingkari pemakaian perumpamaan dalam hal-hal yang remeh dan memprotes Allah dalam hal tersebut, pa-dahal dalam hal itu tidak ada yang patut diprotes, bahkan hal itu adalah suatu pengajaran Allah تعالى kepada hamba-hambaNya serta kasih sayangNya kepada mereka, maka wajiblah diterima dengan terbuka dan penuh kesyukuran. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ ﴿ "Adapun orang-orang yang ber-iman, maka mereka mengetahui (yakin) bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka," mereka memahami dan memikirkannya, lalu apabila mereka mengetahui apa yang meliputi hal tersebut dalam perinciannya, niscaya bertambahlah ilmu dan keimanan mereka dengan hal itu, namun bila tidak, niscaya mereka mengetahui bah-wasanya hal itu adalah suatu kebenaran dan apa pun yang dikan-dungnya adalah kebenaran, walaupun kandungan kebenarannya itu tidak dapat mereka mengerti, karena pengetahuan mereka bahwasanya Allah tidaklah membuat perumpamaan itu dengan sia-sia, akan tetapi karena sebuah hikmah yang tinggi dan nikmat yang dalam. ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ ﴿ "Tetapi mereka yang kafir mengatakan, 'Apa maksud Allah menjadikan ini untuk perum-pamaan?'" Yakni, mereka menyanggah dan bingung sehingga ber-tambahlah kekufuran kepada kekufuran yang telah ada pada me-reka, sebagaimana bertambahnya keimanan bagi kaum Mukminin kepada keimanan mereka. Oleh karena itulah Allah berfirman, ﴾ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ ﴿ "Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberiNya petunjuk." Demikianlah kondisi kaum Mukminin dan kaum kafir ketika turunnya ayat-ayat al-Qur`an. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ فَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ 124 وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ 125 ﴿ "Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapakah di antara kamu yang bertam-bah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambahlah kekafiran mereka, di samping kekafiran-nya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir." (At-Taubah: 124-125). Maka tidak ada kenikmatan yang lebih besar bagi hamba dari turunnya ayat-ayat al-Qur`an. Walaupun demikian, hal ini bagi suatu kaum menjadi sebuah ujian, kebingungan, kesesatan, dan bertambahnya keburukan kepada keburukan yang telah ada pada mereka, sedang bagi kaum yang lain menjadi ujian, rahmat, dan bertambahnya kebaikan kepada kebaikan yang telah ada pada mereka. Maka Mahasuci Dzat yang telah membeda-bedakan antara hamba-hambaNya dan keesaanNya dalam memberikan petunjuk dan kesesatan. Kemudian Allah menyebutkan hikmah di balik penyesatan yang dilakukan olehNya kepada seseorang yang tersesat, seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik," yaitu orang-orang yang berpaling dari ketaatan kepada Allah dan yang menentang Rasul-rasul Allah yang akhirnya kefasikan itu menjadi sifat paten mereka, dan mereka sendiri tidak ingin merubahnya, maka berjalanlah hikmah Allah bagi mereka dalam menyesatkan mereka, karena mereka tidaklah pantas mendapatkan petunjuk, sebagaimana berjalannya hikmah dan keutamaanNya dalam memberikan petunjuk kepada orang yang memiliki sifat keimanan dan menghiasi diri mereka dengan amalan-amalan shalih. Kefasikan itu ada dua macam: Yang pertama adalah kefasikan yang mengeluarkan seseorang dari Islam yaitu kefasikan yang mengakibatkan keluar dari keimanan seperti yang disebutkan dalam ayat ini dan yang semacamnya, sedangkan yang kedua adalah kefasikan yang tidak mengeluarkan dari keimanan, seperti dalam Firman Allah تعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti." (Al-Hujurat: 6).