Skip to content
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Az-Zumar
Sūrah 39

Az-Zumar

This is a translation of Tafsīr as-Saʿdī as IslamHouse.com publishes it at saadi.islamenc.com, read from that site’s pages. The site does not say who translated it or which printed edition it follows, and states no terms for taking its text, so the right to show it is not verified. Nobody has compared it with a printed book, and no scholar has reviewed it. Each passage stands beside the verses it comments on, which are the Qur’ān text of Tanzil, shown as it is there; a verse the site gives no commentary of its own stands with the passage before it, and the index names each such verse. Sabīl did not write or translate any of it.

Text fromsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)taken 2026-10-22

Verse 66

بَلِ ٱللَّهَ فَٱعْبُدْ وَكُن مِّنَ ٱلشَّـٰكِرِينَ 66

(66) Kemudian Dia berfirman, ﴾ بَلِ ٱللَّهَ فَٱعۡبُدۡ ﴿ "Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah." Setelah Allah memberitahu bahwa orang-orang yang jahil (bodoh) itu memerintah beliau untuk melakukan syirik dan Allah mengabarkan kekejian syirik, maka Dia memerintahnya untuk ikhlas (bertauhid), seraya berfirman, ﴾ بَلِ ٱللَّهَ فَٱعۡبُدۡ ﴿ "Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah." Maksudnya, murnikanlah ibadah hanya kepadaNya saja, tiada se-kutu bagiNya, ﴾ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur" kepada Allah atas taufikNya. Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى disyukuri atas segala nikmat duniawi, seperti kesehatan tubuh dan keselamatannya, perolehan rizki dan lain-lainnya, maka demikian pula Dia disyukuri dan dipuji atas nikmat-nikmat AgamaNya seperti taufik (bimbingan) kepada keikhlasan dan takwa. Bahkan nikmat agama adalah nikmat yang sesungguhnya dan bila direnungkan, maka ia sesungguhnya ber-asal dari Allah سبحانه وتعالى. Bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat ter-sebut merupakan penyelamatan (diri) dari sifat ujub (bangga diri) yang sering menghampiri (hati) orang-orang yang beramal disebab-kan kebodohan mereka. Kalau tidak, sekiranya saja sang hamba mengetahui keadaan yang sebenarnya, tentu ia tidak akan ber-bangga diri oleh nikmat yang sebenarnya harus lebih disyukuri.