Al-Qasas
This is a translation of Tafsīr as-Saʿdī as IslamHouse.com publishes it at saadi.islamenc.com, read from that site’s pages. The site does not say who translated it or which printed edition it follows, and states no terms for taking its text, so the right to show it is not verified. Nobody has compared it with a printed book, and no scholar has reviewed it. Each passage stands beside the verses it comments on, which are the Qur’ān text of Tanzil, shown as it is there; a verse the site gives no commentary of its own stands with the passage before it, and the index names each such verse. Sabīl did not write or translate any of it.
Text fromsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)taken 2026-10-22
إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ 56
(56) Allah mengabarkan bahwasanya engkau, wahai Mu-hammad, –dan apalagi selain kamu–, tidak akan mampu memberi-kan hidayah kepada siapa pun, walau terhadap orang yang paling kamu cintai. Sebab, hal ini merupakan perkara yang tidak mampu dilakukan oleh manusia. Yaitu hidayah taufik (bimbingan) dan menimbulkan iman di dalam hati. Sebenarnya hati hanya di Tangan Allah سبحانه وتعالى; Dia memberikan petunjukNya kepada orang yang dike-hendakiNya, dan Dia lebih mengetahui tentang orang yang laik diberi petunjuk, kemudian Dia memberinya petunjuk, dari orang yang tidak laik mendapatkannya sehingga Dia menetapkannya dalam kesesatannya. Adapun tentang penetapan hidayah milik Rasulullah yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ 52 ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (Asy-Syura: 52), maksudnya adalah Hidayah Bayan wa al-Irsyad (memberikan penjelasan dan arahan). Jadi, Rasulullah a itu hanya menjelaskan jalan yang lurus, menganjurkannya dan mengerahkan seluruh kemampuan di dalam membimbing ma-nusia agar menelusurinya. Adapun tentang kemampuan beliau menciptakan iman di dalam hati mereka dan memberikan taufik kepada mereka untuk beramal, maka sama sekali beliau tidak bisa. Oleh karena itu, kalau sekiranya beliau mampu melakukannya, tentu beliau memberikan hidayah kepada orang yang telah banyak berbuat baik kepada beliau, membela dan melindungi beliau dari kaumnya, yaitu pamannya, Abu Thalib. Namun beliau tetap ber-buat ihsan (baik) dalam bentuk mengajaknya untuk masuk Islam dan nasihat yang sangat tulus yang lebih besar daripada yang di-lakukan oleh pamannya terhadap beliau. Akan tetapi hidayah tetap ada di Tangan Allah.