Skip to content
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Muminoon
Sūrah 23

Al-Muminoon

This is a translation of Tafsīr as-Saʿdī as IslamHouse.com publishes it at saadi.islamenc.com, read from that site’s pages. The site does not say who translated it or which printed edition it follows, and states no terms for taking its text, so the right to show it is not verified. Nobody has compared it with a printed book, and no scholar has reviewed it. Each passage stands beside the verses it comments on, which are the Qur’ān text of Tanzil, shown as it is there; a verse the site gives no commentary of its own stands with the passage before it, and the index names each such verse. Sabīl did not write or translate any of it.

Text fromsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)taken 2026-10-22

Verse 71

وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلْحَقُّ أَهْوَآءَهُمْ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَـٰهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ 71

(71) Jika ada lontaran pertanyaan, "Kenapa kebenaran itu tidak selaras saja dengan apa yang mereka inginkan, agar mereka mau beriman atau cepat tunduk patuh?" Maka Allah تعالى menjawab dengan berfirman, ﴾ وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلۡحَقُّ أَهۡوَآءَهُمۡ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini." Sisi penjelasannya bahwa hawa nafsu mereka berhubung-an dengan moral dan tindak-tanduk yang mengandung unsur ke-zhaliman, kekufuran dan kerusakan. Seandainya kebenaran menu-ruti hawa nafsu mereka, niscaya langit dan bumi akan mengalami kerusakan, karena kerusakan penanganan dan sistem pengaturan yang berasaskan kezhaliman dan ketidakadilan. Langit dan bumi tidak akan tegak berdiri kecuali dengan kebenaran dan keadilan. ﴾ بَلۡ أَتَيۡنَٰهُم بِذِكۡرِهِمۡ ﴿ "Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka," yaitu dengan al-Qur`an ini yang meng-ingatkan mereka kepada setiap kebaikan, yang menjadi sumber kebanggaan dan prestise mereka ketika mereka melaksanakannya, dan dengan al-Qur`an pula, mereka akan menjadi tokoh-tokoh besar di tengah manusia. ﴾ فَهُمۡ عَن ذِكۡرِهِم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "Tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu," sebagai ketetapan kebinasaan dan ketiadaan taufik (Allah) pada mereka. ﴾ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ ﴿ "Mereka lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." (Al-Hasyr: 19). Al-Qur`an dan orang yang membawanya merupakan kenik-matan agung yang Allah sodorkan kepada mereka. Mereka tidak meresponnya melainkan dengan penolakan dan sikap berpaling. Apakah ada keterpasungan dari pahala yang lebih fatal darinya? Tidaklah hal itu berakibat kecuali kerugian yang parah?