Skip to content
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Hajj
Sūrah 22

Al-Hajj

This is a translation of Tafsīr as-Saʿdī as IslamHouse.com publishes it at saadi.islamenc.com, read from that site’s pages. The site does not say who translated it or which printed edition it follows, and states no terms for taking its text, so the right to show it is not verified. Nobody has compared it with a printed book, and no scholar has reviewed it. Each passage stands beside the verses it comments on, which are the Qur’ān text of Tanzil, shown as it is there; a verse the site gives no commentary of its own stands with the passage before it, and the index names each such verse. Sabīl did not write or translate any of it.

Text fromsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)taken 2026-10-22

Verse 5

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مِّنَ ٱلْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِى ٱلْأَرْحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوٓا۟ أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرْذَلِ ٱلْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔا ۚ وَتَرَى ٱلْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَآ أَنزَلْنَا عَلَيْهَا ٱلْمَآءَ ٱهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنۢبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍۭ بَهِيجٍ 5

(5) Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ ﴿ "Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur)," keragu-raguan, kesangsian, serta ketidakyakinan akan kejadiannya, padahal kewajiban kalian adalah mempercayai Rabb kalian dan membenarkan para RasulNya dalam masalah itu. Akan tetapi, jika kalian menampik segalanya selain sikap ragu-ragu semata, maka ambillah dua bukti logis yang kalian saksikan. Masing-masing menunjukkan dengan bukti yang pasti kepada perkara yang kalian ragu tentangnya dan menghilangkan unsur syak pada hati-hati kalian. Pertama, pengambilan bukti melalui penciptaan manusia pertama kali, dan bahwa Dzat yang memulai penciptaannya akan (bisa) mengulanginya kembali. Allah berfirman mengenai ini,﴾ فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٖ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah," maksudnya menciptakan nenek moyang manusia, Adam عليه السلام. ﴾ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "Kemudian dari setetes air mani," yakni dari mani. Inilah per-mulaan proses penciptaan manusia. ﴾ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ ﴿ "Kemudian dari segumpal darah," maksudnya air mani itu berubah menjadi darah yang merah dengan izin Allah. ﴾ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٖ ﴿ "Kemudian dari segumpal daging," maksudnya darah itu beralih wujud menjadi mudhghah, yakni segumpal daging dengan ukuran yang bisa dikunyah. Se-gumpal daging tersebut, terkadang ﴾ مُّخَلَّقَةٖ ﴿ "sempurna kejadiannya," maksudnya terbentuk bakal manusia dan terkadang ﴾ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ ﴿ "tidak sempurna," karena rahim mengeluarkannya sebelum diproses pembentukannya ﴾ لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ ﴿ "agar Kami jelaskan kepadamu," asal muasal penciptaan kalian, meskipun Allah mampu menyempurna-kan penciptaannya dalam sekejap saja. Hanya saja, untuk menjelas-kan kepada kita sekalian kesempurnaan hikmahNya dan keagungan kekuasaanNya serta keluasan rahmatNya. ﴾ وَنُقِرُّ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ﴿ "Dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan," [mak-sudnya] Kami menetapkan kehamilan dalam rahim yang tidak di-campakkannya yang Kami kehendaki keberlangsungannya sampai waktu yang telah ditentukan, yaitu masa kehamilan. ﴾ ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ ﴿ "Kemudian Kami keluarkan kamu," dari perut-perut ibu kalian ﴾ طِفۡلٗا ﴿ "sebagai bayi," yang mana kalian tidak mengetahui apa pun dan kalian tidak punya kekuatan. Selanjutnya Kami mengerahkan para ibu bagi kalian dan mengadakan rizki bagi kalian melalui air susu-nya. Kemudian kalian tumbuh dari fase ke fase berikutnya sampai memasuki masa kedewasaan. Yaitu masa kematangan kekuatan dan daya pikir. ﴾ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ ﴿ "Dan di antara kamu ada yang diwafatkan," se-belum mencapai usia kedewasaan. Dan di antara kalian ada yang melewati usia tua sehingga ﴾ يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ ﴿ "dipanjangkan umurnya sampai pikun," usia yang mengenaskan dan hina, yaitu masa tua renta dan pikun, yang menyebabkan akal sehat hilang dan ber-kurang. Sebagaimana kekuatan fisiknya yang lain juga hilang dan melemah ﴾ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٖ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya," maksudnya agar orang yang dipanjangkan umurnya ini tidak mengetahui perkara-perkara yang mereka ketahui sebelumnya. Lantaran melemahnya kekuatan akal yang dimilikinya. Kekuatan seorang manusia dikeli-lingi oleh dua kelemahan: (1). Kelemahan pada masa kanak-kanak dan kekurangan padanya; (2). Kelemahan masa tua dan kekurangan padanya. Seperti yang difirmankan oleh Allah تعالى, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعۡفٖ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ ضَعۡفٖ قُوَّةٗ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٖ ضَعۡفٗا وَشَيۡبَةٗۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡقَدِيرُ 54 ﴿ "Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemu-dian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya, dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa." (Ar-Rum : 54). Kedua: Menghidupkan bumi setelah mati. Allah berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ ﴿ "Dan kamu lihat bumi ini kering," diam, penuh debu-debu, tidak ada tanaman dan juga tidak ada hijau-hijauan padanya ﴾ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ ﴿ "kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu," maksudnya bergerak-gerak karena ada tumbuh-tumbuhan ﴾ وَرَبَتۡ ﴿ "dan suburlah," maksudnya menjadi semakin tinggi pasca diamnya. Yaitu dengan pertumbuhan ta-namannya ﴾ وَأَنۢبَتَتۡ مِن كُلِّ زَوۡجِۭ ﴿ "dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan," yaitu satu jenis dari jenis-jenis tumbuhan ﴾ بَهِيجٖ 5 ﴿ "yang indah," mengagumkan orang-orang yang melihat-nya dan menyenangkan orang-orang yang memandangnya.