Skip to content
Tafsir As-Saadi - Indonesian · Al-Anbiyaa
Sūrah 21

Al-Anbiyaa

This is a translation of Tafsīr as-Saʿdī as IslamHouse.com publishes it at saadi.islamenc.com, read from that site’s pages. The site does not say who translated it or which printed edition it follows, and states no terms for taking its text, so the right to show it is not verified. Nobody has compared it with a printed book, and no scholar has reviewed it. Each passage stands beside the verses it comments on, which are the Qur’ān text of Tanzil, shown as it is there; a verse the site gives no commentary of its own stands with the passage before it, and the index names each such verse. Sabīl did not write or translate any of it.

Text fromsaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)taken 2026-10-22

Verse 44

بَلْ مَتَّعْنَا هَـٰٓؤُلَآءِ وَءَابَآءَهُمْ حَتَّىٰ طَالَ عَلَيْهِمُ ٱلْعُمُرُ ۗ أَفَلَا يَرَوْنَ أَنَّا نَأْتِى ٱلْأَرْضَ نَنقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَآ ۚ أَفَهُمُ ٱلْغَـٰلِبُونَ 44

(44) Faktor yang menyebabkan mereka kontinyu dalam kekufuran dan kesyirikan ialah, Firman Allah, ﴾ بَلۡ مَتَّعۡنَا هَٰٓؤُلَآءِ وَءَابَآءَهُمۡ حَتَّىٰ طَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡعُمُرُۗ ﴿ "Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka," maksudnya, Kami telah menopang kehidupan mereka dengan limpahan harta dan keturunan, dan Kami telah mengaruniakan umur panjang bagi mereka. Akhirnya, mereka menyibukkan diri untuk menikmatinya dan melupakan untuk misi apa mereka di-ciptakan di dunia ini. Seiring dengan perjalanan masa bersama mereka, kalbu-kalbu mereka menjadi keras, kepongahan mereka semakin menjadi-jadi serta kekufuran mereka pun semakin mengen-tal. Andai mereka mau mengarahkan pandangan mereka kepada orang-orang yang berada di sisi bumi sebelah kanan dan kiri, nis-caya mereka tidak akan menjumpai kecuali orang yang telah binasa. Tidaklah mereka mendengarkan melainkan suara-suara ratapan wanita. Dan tidaklah mereka menyadari melainkan masa-masa yang saling bergantian, berujung pada kehancuran. Kematian telah berdiri tegak di tengah jalan –untuk menyambar jiwa-jiwa– menye-barkan tali-tali jeratnya. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَلَا يَرَوۡنَ أَنَّا نَأۡتِي ٱلۡأَرۡضَ نَنقُصُهَا مِنۡ أَطۡرَافِهَآۚ ﴿ "Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya," yaitu kabar tentang kematian para penduduk-nya, dan kehancuran mereka secara pelan-pelan sampai akhirnya Allah mewarisi bumi dan seisinya. Dia-lah sebaik-baik Dzat yang mewarisi. Jika mereka menyaksikan kejadian ini, niscaya mereka tidak akan terpedaya dan tidak akan keras kepala dengan kondisi mereka saat itu ﴾ أَفَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ 44 ﴿ "maka apakah mereka itu menang," yang dengan keleluasaan yang dimiliki, mereka bisa keluar dari takdir Allah dan dengan kemampuan yang dimiliki, mereka dapat menahan diri dari kematian. Apakah seperti ini keadaan mereka hingga tertipu dengan masa kehidupan mereka yang panjang (di dunia ini)? Ataukah mereka itu, bila utusan Allah (malaikat) datang untuk mencabut ruh-ruh, mereka akan patuh dan merasa hina, tidak tampak unsur penentangan dari mereka sedikit pun?